Prostitusi, Gratifikasi, dan Kerusakan Negeri

Aloj Srjna   January 30, 2014   No Comments

Wanita; Salah Satu Pemusnah Masal

Harta, tahta, dan wanita. Bagi kebanyakan orang 3 senjata ini bagaikan pemusnah masal yang sudah teramat populer. Semua orang tahu bagaimana ketiganya bisa membuat manusia tak ubahnya minum secawan khamr yang melalaikan dan melenakan.

Hartalah yang membuat kebanyakan manusia bisa meninggalkan sisi kemanusiaannya yang bahkan terkadang manusia sendiri tak bisa melogikanya. Pagi hingga larut malam orang akan mengejarnya habis-habisan bak orang kesetanan. Sebelum ia mendapatkan harta yang diinginkan, selamanya ia tak akan berhenti. Begitupun dengan tahta yang dari jaman sebelum Fir’aun hingga jaman Misbakhun, tak pernah sepi dari perkompetisian.

Bagaimana dengan wanita? Jika ada yang menganggap bahwa wanita merupakan racun dunia, barangkali memang berangkat dari sini. Wanita membunuh dari sisi pesonanya, dari sisi kemolekannya, dan dari sisi rayuannya. Tak heran, banyak oknum tertentu yang memanfaatkannya sebagai jalan penggoda mereka yang berkuasa ataupun mereka yang memiliki kuasa. “Mukosa bagi jalannya sebuah proyek dan katalisator untuk terwujudnya suatu tender”, begitu kata mereka. Di sinilah permainan wanita ada, karena harta dan kuasa, seseorang melibatkan peran wanita di dalamnya. Era modern menyebutkan istilahnya sebagai gratifikasi seks. Sebagaimana yang sering disebut-sebut oleh seorang Mahfud MD dalam wawancara perihal maraknya gratifikasi seks di ranah parlemen.

Keterlibatan Wanita dalam Ranah Penguasa dan Pengusaha: Gratifikasi Seks

Keterlibatan wanita dalam ranah penguasa bukanlah hal baru. Di Jepang ada istilah geisha, wanita penghibur yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan berduit. Selain itu yang lebih rendah dari seorang geisha ada istilah jugun ianfu (wanita yang dipaksa untuk melayani nafsu bejat laki-laki di era Perang Dunia II). Di Korea ada istilah Gisaeng, sementara di Indonesia gratifikasi seks bisa dalam bentuk mendatangkan mahasiswa (ayam kampus-red) dan PSK (Pekerja Seks Komersial). Hal ini bergantung dengan selera pihak yang bersangkutan. Lagi-lagi, wanita bagai barang yang bisa diperjual-belikan seenaknya, komoditas paling menjanjikan di era kapitalisme dan pasar bebas yang sering dibangga-banggakan.

Gratifikasi seks seringkali diperlukan untuk pejabat yang tidak pro pengusaha dan cenderung menghambat perkembangan bisnis pengusaha. Dalam salah satu edisi khususnya, majalah Tempo menjelaskan perihal kasus daging impor yang melibatkan salah satu partai ternama berbasis Islam, Maharani (mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta) diduga menjadi gratifikasi seks dari seorang importir daging kepada Achmad Fathanah (orang terdekat Lutfi Hasan Ishaq-Presiden PKS). Maharani sendiri mengaku bahwa ia diberi uang 10 juta sebagai hadiah perkenalan. Antara logis dan tidak logis, tidak mungkin seseorang memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar untuk sebatas perkenalan singkat. Ini hanya salah satu contoh, pastinya masih banyak praktek pemberian gratifikasi seks ini di ranah parlemen.

Gratifikasi dan Prostitusi

Secara bahasa sebenarnya gratifikasi bisa diartikan sebagai uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan. Jadi, secara sederhana gratifikasi seks bisa diartikan sebagai “bonus” seks untuk seorang pegawai. Menjustifikasi seorang gratifikasi seks sebagai pelaku bisnis prostitusi bukanlah suatu hal yang mustahil, karena pada dasarnya di dalamnya sama-sama terdapat praktek esek-esek.

Bisnis prostitusi adalah bisnis dalam ranah perdagangan “jasa” seks. Dengan kata lain, pada dasarnya bisnis prostitusi merupakan suatu bentuk yang terlampau umum, sementara gratifikasi seks memiliki tendensi pemberlakuan untuk para pegawai tertentu dengan alasan tertentu (kebanyakan sebagai pelicin ijin atas suatu proyek tertentu yang berkaitan dengan pemerintah).

Menghindari Gratifikasi Seks?

Gratifikasi seks nyata adanya, tidak bisa dihindari dalam sistem perpolitikan demokrasi yang serba mahal ini. Ke-glamour-annya sangat lihai menjerat pemain-pemain di dalamnya, menyeret setiap orang yang baik sekalipun untuk melakukan apa yang dimau para korporat. Gratifikasi seks merupakan sebuah barter in natura dari seorang penghasil uang kepada pembuat regulasi undang-undang. Bahkan dalam sistem perpolitikan era demokrasi-sekuleristis, perilaku yang seperti ini pun seolah-olah sudah menjadi hukum alam yang tak bisa dihindari.

Prostitusi; Ancaman Suatu Negeri

Di negeri yang katanya menjunjung tinggi nilai moral dan adat ketimuran ini pun, bisnis prostitusi kian merebak. Tak bisa dipungkiri, satu per satu generasi gontai, rusak secara moral dan akal akibat terlibat pada bisnis permesuman ini. Mulai dari prostitusi online, non-online, arisan seks, phone seks, chat seks dan lain sebagainya telah merusak otak pemuda negeri ini. Serangan media yang membabi buta juga semakin menambah liar imajinasi orang-orang yang melihatnya.

Ayam kampus, gratifikasi seks, apapun namanya tetaplah suatu bentuk bisnis prostitusi yang terlanjur merusak suatu negeri, termasuk negeri yang saat ini kita tempati. Mengomoditaskan makhluk bernama perempuan adalah sebuah dosa yang tak terampuni oleh agama apapun. Hal itu tak ubahnya perbudakan modern terhadap perempuan, penegak salah satu pilar negara, yaitu pendidik sekaligus pelindung generasi suatu bangsa. Sehingga melindungi perempuan merupakan salah satu melindungi generasi, bentuk pemartabatan suatu negeri, lebih jauh sebagai wujud ketaatan seseorang kepada Sang Penggenggam Bumi.[

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>