Perubahan Sosial

Perubahan sosial tidak terjadi sebagaimana zat kimia yang ketika 1 mol unsur Na (misal) yang bermuatan positif direaksikan dengan 1 mol unsur Cl yang bermuatan negatif akan selalu menghasilkan senyawa NaCl yang bersifat netral. Perubahan sosial juga tidak bisa disamakan dengan rumus hitung-hitungan mutlak seperti yang kita pelajari bersama dalam pelajaran Matematika, di mana saat bilangan 11 ditambahkan dengan bilangan 0 hasilnya akan tetap 11. Perubahan sosial melibatkan unsur-unsur yang lebih kompleks, yang melibatkan masyarakat dengan sejumlah pemikiran (termasuk adat, kebiasaan, dan mitos-mitos) dan perasaan yang melingkupinya, serta  ragam aturan yang dianggap sacral oleh mereka. Itulah perubahan sosial. Bukan sekedar perubahan dalam skala individu, namun dalam skala masyarakat beserta tatanannya.

Ibnu Khaldun, seorang Filsuf Islam ternama pernah menuliskan dalam kitabnya Mukaddimah tentang manusia sebagai makhluk sosial yang ia tidak akan pernah lepas dan berdiri sendiri untuk menunjang kehidupannya. Manusia tidak akan pernah bisa berdiri sendiri, membusungkan dadanya saat ia merasa punya segalanya. Sekali lagi tidak! Manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Hukum alam manusia adalah bersosialisasi dengan sesamanya, bertemu orang yang berbeda, dan menuntutnya untuk berinteraksi dengan banyak orang sesuai dengan kepentingannya, maka konsesus yang muncul pun akan bisa berbeda ketika manusia bertemu dengan manusia dari latar belakang dan tempat yang berbeda. Inilah yang selanjutnya menjadikan perubahan sosial pada masyarakat itu sebuah niscaya dan tidak ada formulasi yang pasti untuk wujud perubahannya.

Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. [Wikipedia Bahasa Indonesia]. Gillin dan Gillin menjelaskan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

Kita bisa melihat perubahan sosial yang ada di Indonesia mulai dari Era Soeharto ke era Reformasi. Indonesia bertransformasi ke dalam era reformasi terkategori cukup singkat. Kemuakan pemuda, khususnya mahasiswa terhadap rezim otoriter Soeharto memunculkan demo besar-besaran menuntut lengsernya Sang Diktator yang sudah mendikte rakyat Indonesia selama kurang lebih 20 tahun. Proses itu terkategori cukup menyisakan pahit bagi sebagian rakyat karena seolah-olah perubahan sosial haruslah meminta nyawa sebagai tumbalnya. Ini salah satu contoh perubahan sosial yang terjadi di negeri ini saat beberapa elemen masyarakat menyadari bahwa negara sedang dalam keterpurukan akibat hutang yang menggunung dan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) semakin merajalela. Mahasiswa saat itu merasa jengah, suaranya yang selama ini banyak dibungkam melalui kekuatan militer tiba-tiba merasa harus dikeluarkan dan diserukan ke tengah masyarakat. Militer blingsatan, akhirnya pecah pertempuran sengit antara mahasiswa dan beberapa warga dengan militer pemerintah pada Mei 1998. Kemudian beberapa hari setelah tragedi berdarah tersebut, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

Dan sekarang, setelah hampir 15 tahun tragedi itu berlalu, tragedi berdarah yang menuntut sebuah perubahan sosial agar manusia bisa hidup lebih layak dan bebas berekspresi pun berpendapat, toh pada akhirnya hampir tidak ada bedanya. Tak heran jika kakek nenek kita yang dulu merasakan kehidupan Orde Lama sempat bergeming, “Mana yang lebih penting, mulut bebas bersuara dan merdeka tapi perut tidak kenyang, atau mulut dibungkam tapi perut kenyang?”

Pada akhirnya, perubahan sosial memang merupakan proses yang lama dan besar. Tidak bisa asal grusa-grusu,  menuntut seenaknya sendiri tanpa diimbangi konsep perubahan sosial yang berkualitas dan rigit. Setidaknya kita belajar dari kesalahan masa lalu, tak sekedar mengenangnya atau mengoleksi foto-foto heroik sebagai simbol perubahan semata. Kita harus belajar, bahkan juga harus berani menggagas perubahan sosial yang lebih dari sekedar kata Reformasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *