Ozonisasi

aniesmaududi   August 5, 2013   No Comments

Pada tahun 1972 untuk yang pertama kalinya Indonesia telah dihasilkan air kemasan yang pertama yang umum dinamakan air mineral. Air kemasan yang  di ambil dari mata air pegunungan yang sehat dan bersih. Tetapi tidak menutup kemungkinan yang bersih tersebut adalah sehat. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut beberapa produsen penghasil air mineral menggunakan berbagai macam zat untuk membunuh mikroorganisme. Tapi apakah zat tersebut aman? Apakah secara efektif dapat membunuh mikroorganisme tersebut?

Air merupakan media untuk pertumbuhan mikroorganisme, baik air yang jernih atau yang kotor. Di dalam air yang jernih di temukan beberapa mikroorganisme yang dapat mempengaruhi kualitas air. Misalnya;

  • Kelompok bakteri besi (misal: Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan sebagainya.
  • Kelompok bakteri belerang (misal: Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2 Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium bau busuk seperti bau busuk telur busuk.
  • Kelompok mikroalga (misal termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik), sehingga kalau air yang disimpan lama akan nampak jasad-jasad yang berwarna kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut serta lingkungan yang mempengaruhinya

Beberapa mikroorganisme di atas dapat menurunkan kualitas air kemasan/air mineral, sehingga beberapa produsen memilih berbagai bahan untuk membunuh mikroorganisme tersebut. Selama proses penambahan bahan kimia yang dapat membunuh mikroba tersebut meskipun sumber airnya dari mata air yang berasal dari sumber air, dan kemudian ditambahkan zat kimia yang dapat membunuh mikroba yang mungkin hadir membahayakan, tetapi senyawa kimia tersebut tidak merubah warna, rasa dan bau. Misalnya menggunakan bahan kimia seperti ozon/O3, kalau terurai akan menjadi O2 (oksigen yang dibutuhkan untuk pernafasan) dan On  yang sifatnya sangat labil serta dapat dengan mudah menjadi O2 kembali.

Selain penggunaan ozon juga digunakan kaporit untuk membunuh mikroba tersebut. Kaporit adalah senyawa kimia yang umum digunakan sebagai senyawa pembunuh mikroba. Bedanya dengan ozon kaporit akan meninggalkan residu (sisa) yang memepunyai rasa ataupun bau. Dengan kaporit, dengan dosis beberapa ppm (mg /liter) akan terdapat sisa (umum disebut klor) yang akan tetap tercium sebagai “bau kaporit”. Maka dalam produksi air kemasan, senyawa pembunuh mikroba umumnya menggunakan ozon karena tidak mengakibatkan bau ataupun rasa akibat sisanya. Dan dalamperkembangan pemakaian ozon dalam proses pengolahan air berjalan cukup pesat. Sampai sekarang sebagian besar produksi air mineral ataupun sumber-sumber pengolah air mulai beralih ke ozon sebagai bahan pengolah melalui cara-cara tertentu agar tetap aman untuk kesehatan konsumennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>