Mencetak Pahlawan Bangsa dari Kuliah Kemiskinan?

Aloj Srjna   January 7, 2014   No Comments

Di tengah gerusan kekejaman kapitalisme, bangsa ini terus melawan, mencoba bertahan sekuat tenaga untuk membuktikan kepada dunia bahwa bangsa yang dulu sempat dijajah ini bisa tetap eksis di kancah internasional. Bangsa ini terus menunjukkan optimisme tinggi terhadap tantangan global meskipun kenyataan masih belum berpihak pada cita-cita menjadi bangsa terdepan dan berperadaban. Ragam program pencegah keterpurukan ekonomi negeri terus digencarkan, berbagai pihak dilibatkan untuk memikirkan nasib perekonomian bangsa. Seolah tidak pernah berhenti, tak pernah menyerah.

Kemiskinan masih menjadi salah satu isu sentral yang tidak akan pernah basi, menjadi  bahan janji manis para elit politik saat maju di medan laga perkampanyean dengan menawarkan ragam program pengentasan kemiskinan yang bahkan oleh masyarakat sendiri tidak pernah bisa dipahami.

Isu kemiskinan pun akhirnya menjadi feromon tersendiri bagi lebah pebisnis. Alam kapitalisme menjadikan segala hal yang sifatnya memikat kuat, menyedot perhatian khusus, menjadi bahan baru yang bisa dikomoditaskan. Begitulah cara kerja kapitalisme.

Mewacanakan pengentasan kemiskinan menjadi sebuah lambang nasionalisme dan patriotisme anak bangsa yang seolah-olah menjadi sayembara berkepanjangan untuk mendapatkan gelar “pahlawan bangsa”. Barangkali memang benar. Negeri ini menunggu pahlawan bangsa yang akan mengentaskan kemiskinan. Superman, Wonder Women, James Bond? Tentu bukan! Mereka bukan pahlawan kemiskinan, tapi pahlawan yang diimajinasikan orang-orang Barat karena tingginya angka kriminalitas yang terjadi di sana. Sementara Indonesia?  Kita masih berkutat pada isu sentral ini.

Negara ini tidak berhenti pada program-program pengentasan kemiskinan melalui pemberian kredit UMKM maupun BLT. Tidak juga hanya melakukan penggratisan pendidikan, maupun kesehatan khusus orang-orang yang terkategori tidak mampu. Selama ini pemerintah fokus pada pembenahan, bukan pada pencegahan alias investasi sumber daya manusia jangka panjang. Karena program-program tersebut belum cukup menjangkau sisi penyelesaian secara holistik, pada akhirnya terbentuklah salah satu program studi kemiskinan di Tanah Air. Satu-satunya universitas yang memiliki prodi ini yaitu Universitas Negeri Brawijaya Malang di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Harapannya hanya satu: masalah kemiskinan akan segera terselesaikan.

Tanya besar kemudian mencuat, “mampukah lulusannya mejadi pahlawan bangsa pengentas kemiskinan ataukah nantinya mereka hanya akan menjadi kepanjangan tangan para elit politik yang “dipaksa” menarik perhatian kaum kecil untuk sekedar mencoblos gambar-gambar mereka di pesta demokrasi?” Sayangnya, dilihat dari track record lulusan universitas negeri ini, masih banyak yang tidak terserap sesuai dengan bidangnya, kehilangan passion untuk memperbaiki kualitas negeri karena orientasi mereka yang selama ini masih pada uang dan prestice, bukan pada masalah bangsa yang menyelimuti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>