Mempertanyakan Sejarah

Aloj Srjna   April 25, 2014   No Comments

Bagi suatu bangsa, sejarah adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah terlupakan. Ia bagaikan bayangan yang tidak akan pernah sirna, menjadi cermin bagi manusia untuk kehidupannya, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Sejarah pula yang menjadi cambuk suatu bangsa untuk menentukan pilihan: apakah mau meneruskan sejarah, memperbaiki sejarah, ataupun melupakan sejarah? Namun, terlepas dari semua itu, bahwa sejarah adalah bagian dari jati diri suatu bangsa, benar adanya.

Terkadang sejarah bagaikan “adat” turun-temurun, mitos yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan sebuah anggapan bahwa melupakan sejarah sendiri adalah sebuah petaka, kekurang-ajaran yang tidak terampuni. Tidak heran jika sampai sekarang gambar si Lenin simbol komunis tetap bertengger di sekitar kota kecil di Kirgiztan (yang dulu sempat berada di bawah kekuasaan komunis Soviet), atau gambar Soekarno-Hatta yang terpajang pada dinding-dinding rumah sebagian warga Indonesia sebagai wujud menghargai perjuangan mereka dan keterikatan mereka dengan sejarah bangsa. Kita memang dilarang lupa sejarah, sampai-sampai dalam setiap pelajaran kita dipaksa untuk mempelajarinya, sekalipun pada dasarnya kita tidak menyukainya. Itulah hebatnya sejarah yang tetap dipelihara dan dijaga oleh negara sehingga bagaimanapun kondisinya, otoritas tetap memaksa kita untuk memahaminya, minimal mengetahuinya.

Tapi sungguh aneh, apa hebatnya manusia belajar sejarah jika selama hanya berhenti dalam tataran mengetahuinya? Ironisnya, sejarah bangsa ini tidak terlepas dari keterpurukan, keterjajahan rakyat jelata oleh Bangsa Belanda yang berasosiasi dengan kalangan konglomerat pribumi dan kemudian merdeka oleh perjuangan berbagai kelompok “pemberontak” kesewenang-wenangan penjajah. Apa yang harus dibanggakan jika selama ini yang kita rasakan hanya sebatas kemerdekaan semu, penuh bualan, penuh angan-angan murahan yang tidak ada habisnya?

Jangan-jangan selama ini kita hanya dibuai dengan sejarah dan tidak mau lepas dari sejarah kelam? Sejarah yang seharusnya bisa mengajarkan manusia akan banyak hal, namun justru menenggelamkan manusia dalam jurang yang sama. Buktinya penyerahan upeti dari rakyat jelata pada para pemerintah juga masih ada. Jaman dulu upeti dalam bentuk hasil panen, namun upeti jaman pasar bebas berubah nama dengan istilah pajak.

Kejadian demi kejadian selama beberapa dasawarsa ini harusnya bisa membuat manusia dewasa. Pergantian istilah bukan berarti pergantian sejarah. Pergantian sejarah selalu diimbangi dengan perubahan-perubahan sosial, membutuhkan pengorbanan pemikiran yang tidak sederhana. Sementara yang terjadi pada negeri ini tak jauh dari mengulangi sejarah kekelaman yang sama dengan model penjajahan yang berbeda, dengan gaya dan istilah yang berbeda, namun pada intinya tetaplah sama: dominasi tangan asing atas bangsa ini masih nyata dan kian nyata. Jadi, apakah ini berarti bangsa ini sedang mengulangi sejarah yang sama, ataukah memang selama ini sejarah kita masih belum berubah sepenuhnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>