Disiplin; Hasil dan Pilihan

aniesmaududi   September 10, 2013   No Comments

Disiplin itu identik dengan tepat, tertib, dan teratur dalam menjalankan suatu hal. Jika ada yang beranggapan bahwa disiplin adalah sifat bawaan, ialah suatu ketidaktepatan. Disiplin tumbuh karena hasil proses dan berkembang karena pilihan. Banyak faktor yang berpengaruh dalam proses pembentukan karakter disiplin, antara lain :

  1. Pola asuh orang tua atau keluarga
  2. Tekad atau keinginan dalam diri
  3. Faktor lingkungan

Ketiga faktor ini memiliki peranan yang besar dalam membentuk karakter disiplin pada diri seseorang. Faktor pola asuh orang tua atau keluarga adalah sebuah pondasi yang membentuk karakter seseorang, termasuk salah satunya karakter disiplin. Anak cenderung meniru apa yang sering dia lihat dan dia dengar. Jika apa yang dia indera ini adalah sesuatu hal yang memiliki pola atau dasar yang sama, dan hal tersebut diulang secara terus-menerus, secara otomatis, akan menjadi sebuah pembenaran baginya. Proses pembenaran terhadap pola-pola ini akan terinternalisasi di dalam dirinya, yang disebut dengan karakter.

Oleh karenanya, keluarga memiliki peran yang besar dalam mendidik anaknya menjadi berkarakter disiplin atau yang sebaliknya. Contoh paling kecil pembentukan karakter ketidakdisiplinan adalah ketika orang tua berjanji kepada anak namun sering ditunda-tunda. Ketika anak melihat orang tua bangun siang, ketika anak melihat orang tua terlambat berangkat kerja, dan lain-lain. Jika hal ini diulang secara terus-menerus, maka anak akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang benar. Jadi, disiplin adalah hasil proses, bukan sifat bawaan yang melekat pada diri seseorang.

Faktor kedua yaitu tekad atau keinginan dalam diri. Disiplin adalah pilihan. Pilihan untuk menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan, dan kebiasaan terbentuk karena tekad atau keinginan yang kuat dalam diri, serta seringnya hal tersebut dilakukan. Seseorang melakukan sesuatu karena adanya dorongan pikiran. Jadi, tanamkanlah pentingnya memiliki karakter disiplin, sehingga proses pembentukannya adalah bukan hal yang tidak mungkin. Jika seseorang memiliki pemahaman tentang sesuatu hal adalah tidak penting, secara naluriah dia tidak akan melakukannya. Maka, dapat dikatakan bahwa disiplin juga merupakan sebuah pilihan.

Faktor ketiga, yang juga memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya karakter disiplin adalah faktor lingkungan. Tidak jauh berbeda dengan faktor yang pertama. Contoh paling mudah adalah karyawan kantor. Jika atasan memiliki kebiasaan datang terlambat, serta tidak adanya sanksi yang tegas atas hal tersebut, bisa dipastikan bahwa bawahan-bawahannya memiliki pola pikir (proses pembenaran) dan kebiasaan yang sama dengan atasannya.

Hal ini tampaknya sudah menjadi suatu kewajaran di Indonesia. Kedisiplinan menjadi sesuatu yang mahal. Maka tak heran jika Indonesia mendapat julukan “jam karet”. Padahal, disiplin adalah salah satu kunci keberhasilan. Sesuatu yang besar tidak akan terwujud tanpa ada komponen-komponen kecil yang menyusunnya. Keberhasilan tidak akan tercapai tanpa komponen-komponen kecil yang menyertainya, salah satu komponen itu adalah disiplin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>