Densus 88

Aloj Srjna   November 2, 2013   No Comments

Genderang perang melawan teroris membahana hampir ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, militer-militer Indonesia bersiaga untuk satu visi: war on terrorism alias perang terhadap teroris. Dalam rangka melawan teroris ini, Indonesia rela membentuk satuan pasukan khusus yang fungsinya melacak, mengontrol, menindaklanjuti, mengeksekusi orang-orang yang diduga teroris. Densus 88 namanya. Datasemen Khusus Antiteror 88 ini merupakan pasukan khusus kepolisian yang telah terlatih untuk menjinakkan “lawan” terduga atau tersangka teroris. Tidak tanggung-tanggung, FBI dan CIA ikut membantu dalam megaproyek pemberantasan teroris di negeri ini.

Tanpa panjang lebar mengupas pasukan berlabel khusus tersebut, sebuah tanya tentang terminologi teroris pun terus bermunculan. Kemunculannya tidak lepas dari tindakan Densus 88 yang selama ini sering diduga melanggar batas-batas hak asasi manusia (HAM), mulai dari penyiksaan hingga pembunuhan tanpa proses peradilan yang sesuai prosedur hukum. Di tempat yang berbeda, CIA dan FBI juga melakukan hal yang sama: menyiksa dan melanggar batasan hak asasi manusia yang selama ini tiap negara sangat berdahaga untuk mengkampanyekannya.

Perang melawan terorisme menimbulkan masalah baru, yaitu pelanggaran HAM besar-besaran yang tidak disadari baik oleh aparat penegak hukum maupun masyarakat secara umum. Tak hanya berhenti di Amerika, dalam satu tahun terakhir ini, Densus sudah beberapa kali salah menangkap orang yang diduga terlibat jaringan teroris Jamaah Islamiyah dengan Abu Bakar Baashir. Hampir semua yang nama baiknya sudah dirusak dengan label “terduga” maupun “tersangka” tidak mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan perlakuan Densus. Di sinilah ada indikasi bahwa Densus 88 merupakan sebuah institusi legal penginjak-injak HAM, berdiri diakui, menyiksa dan memaksa pun diakui dan disetujui.

Kejahatan adalah kejahatan apapun alasannya. Kejahatan di belahan bumi manapun tak akan pernah diakui jika tidak memiliki bukti yang memenuhi. Terduga, tersangka, tanpa bukti nyata bukanlah apa-apa. Barangkali Densus 88 lupa atau sengaja lupa, namun kejahatan nyata mereka terhadap hak asasi manusia bukanlah hal yang bisa ditutup-tutupi lagi. Terminologi teroris sudah disalahartikan. Pelabelan teroris seenaknya, perlakuan tak manusiawi tak banyak ditentang, namun saat penguasa negeri sendiri mau menjual asset berharga negara, mengancam perekonomian negara yang sudah pasti akan menjahati seluruh masyarakat Indonesia, Densus tak pernah berani melabeli sebagai teroris. Bahkan saat Amerika menginvasi Iraq dan Afganistan sekalipun, mereka tak pernah menyebutnya sebagai aksi terorisme global. Jadi, kejahatan Densus 88 tak berhenti pada pelabelan dan penyiksaan tersangka teroris, namun kebungkaman mereka terhadap kejahatan global yang selama ini berjalan hampir satu dekade di Timur Tengah merupakan kepengecutan paling besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>