Bulu, Sudut Pantura yang Mempesona

Aloj Srjna   July 30, 2013   No Comments

Perlu waktu sekitar 4 jam untuk menempuhnya. Jalanan menuju tempat ini memang lurus bak jalanan ibu kota yang tak banyak tikungannya, namun kondisi jalanan yang bergelombang (akibat tempaan truk-truk besar dan mobil semacamnya) memaksa kami untuk mematok kecepatan sepeda motor maksimal pada jarum 50 Km/jam. Dari arah Surabaya yang cukup panas, kemudian memasuki kawasan jalur pantura, panasnya dua kali lipat. Keringat bercucuran akibat sengatan terik matahari.

Hampir 30 Km dari Tuban Kota, akhirnya sampai pada tempat tujuan, yaitu di Desa Bulu, Kecamatan Bancar, Tuban, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan, kami hampir selalu menemui kendaraan-kendaraan besar pengangkut komoditas perdagangan baik dari dan ke Jawa Tengah, sehingga nyaris setiap perjalanan kami merasa seolah-olah akan dilahap kendaraan-kendaraan super besar tersebut.  Jalanan lurus tersebut hampir tak pernah sepi dari kendaraan, karena jalur pantura (pantai utara) barangkali memang jalur satu-satunya yang menghubungkan antara Surabaya (pusat ibu kota Jawa Timur) dan Jawa Tengah. Jalanan eksotis dari Tuban daerah kota ke Kecamatan Bancar tidak bisa dielakkan. Tiap ruas jalan yang sudah agak rusak tidak bisa menggantikan dominasi rasa takjub terhadap daerah tersebut. Di sebelah kiri jalan banyak rumah penduduk, daerah tambak ikan, dan hutan jati yang menjulang tinggi, sementara sebelah kanan didominasi padang rumput, daerah bakau, dan birunya laut.

MBulu dan Sejarah Bangsa yang Telah Lama Dilupakan

Mbulu adalah nama yang biasa digunakan untuk menyebut Desa Bulu. Orang Jawa kebanyakan memberikan awalan “m” untuk sebuah desa yang berawalan B. Entah untuk alasan apa, namun penyebutan itu sudah mewajar untuk orang-orang sekitarnya. Kecamatan Bancar pun disebut Mbancar oleh kebanyakan orang Tuban dan sekitarnya. Aneh memang, tapi sudah kultur mereka menyebutnya seperti itu.

Ora kesel, leh? [1]”, tanya seseorang yang kami kenal. Dan kami hanya tersenyum, menahan capek dan lapar yang teramat sangat akibat sengatan matahari dan pacuan liar menghadapi truk-truk besar. Ta-da!!! Dan segelas es campur pun akhirnya kami lahap sebelum akhirnya kami putuskan untuk melihat nelayan melaut. Ya, pukul 14.30 mereka berangkat melaut atau dalam bahasa keseharian mereka disebut dengan “miyang”. Melihat profesi mayoritas penduduk Kecamatan Bancar ini mengingatkan saya akan satu hal tentang sejarah orang Indonesia: Seorang Pelaut. Pelaut ulung dan pemberani menerjang badai dan ombak laut. Luar biasa!

Tak bisa dipungkiri bahwa desa di sepanjang kawasan pantura tersebut punya eksotisme tersendiri yang tak tertandingi. Birunya laut yang jauh dari polusi sampah, jajaran kapal yang berbaris rapi, dan hiruk pikuk manusia yang meramaikan pantai. Sungguh, barangkali ini secuil surga dunia yang Tuhan turunkan pada hambaNya.

menuju-miyang

Syukur Seorang Nelayan

Persiapan untuk miyang pun lengkap. Makanan, jaring raksasa, ember dan kerangjang besar pengangkut hasil melaut, galaksi setan (penyebutan untuk lampu penarik ikan yang biasa mereka bawa saat melaut), makanan, bahan bakar dan peralatan-peralatan kecil lainnya yang terkadang saya sendiri tidak membayangkan bakal dibutuhkan selama perjalanan.

Hiruk pikuk perjalanan kapal menyadarkan saya akan sebuah mekanisme perlalu-lintasan yang rumit namun mendekati sempurna. Jika di daratan ada traffic light alias lampu merah pengatur perempatan atau pertigaan, maka mereka hanya mengandalkan mekanisme sederhana yang sudah biasa mereka kerjakan. Mereka mengandalkan peralatan sederhana dan feeling yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyang. Bahkah, kompas pun jarang digunakan saat mereka melakukan ritual miyang. Bagaimana jika mereka tersesat? Mereka cukup putar arah dan melanjutkan perjalanan hingga mereka temukan dermaga kampungnya. Sederhana! Perahu sebanyak itu tertata rapi, berjajar seperti sepeda motor yang sedang diparkirkan, dan uniknya tidak pernah saya mendengar ada perahu satu menabrak perahu lainnya. Sangat mempesona! Tali-tali besar dikaitkan ke dermaga, kemudian perahu cukup diberi tulisan penanda agar tidak keliru satu dengan lainnya, misalkan nama Paulina, KL, Putra Putra, dan semacamnya.

Dalam satu perahu biasanya terdapat 12-15 orang yang tugasnya bermacam-macam dan hitung-hitungan penghasilan pun juga bermacam-macam. ABK (Anak Buah Kapal) biasanya gajinya dapat fee  (penghasilan) paling rendah di antara yang lainnya. Tugas utama mereka adalah menarik jaring ikan. Pendapatan yang diperoleh seorang ABK berdasarkan penuturan salah satu nelayan  berkisar antara Rp 30.000,00-Rp 50.000,00 per miyang bergantung dengan hasil tangkapan. Makin banyak hasil tangkapan, penghasilannya pun juga makin besar. Sementara juru mesin dan juru kapal biasanya mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan ABK, yaitu berkisar antara Rp 80.000,00 – Rp 100.000,00, sesuai dengan tugasnya yang cukup sulit saat mengendalikan perahu.

“Dalam sebulan mungkin hari efektif miyang itu hanya 15 hari. Kadangkala hasilnya banyak, kadang pulang justru gak dapat apa-apa”, kata seorang anak nelayan yang sering saya panggil dengan sebutan Wak. Dia melanjutkan, “Kalau sudah tahu kaya gitu, biasanya hanya bisa ikhlas. Sedih iya, tapi ya mau gimana lagi.”

Dan di sinilah saat-saat saya merasa tidak ada apa-apanya dengan mereka. Mereka yang bersyukur baik saat senang maupun susah melanda karena hanya ada satu hal dalam kepala mereka: Tuhan mengatur rizki hambaNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>